Dolar Menguat Jelang Keputusan The Fed, Pound Sentuh Level Terendah Tiga Bulan

Dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dari kelompok G-10 pada Rabu, menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Hanya dolar Australia yang mampu menahan tekanan, sementara mata uang utama lainnya melemah di tengah meningkatnya minat pasar terhadap aset berbasis dolar.

Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,2%, mencerminkan penguatan Dolar AS yang konsisten di seluruh pasar valuta asing. Aktivitas perdagangan menunjukkan lonjakan volume menjelang akhir bulan, dengan volatilitas yang relatif stabil meski pergerakan harga tampak fluktuatif. Para trader di Eropa melaporkan bahwa aksi reposisi taktis dan aliran dana bulanan menjadi pendorong utama volatilitas pasar hari ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengalami kenaikan moderat di seluruh tenor, dengan yield Treasury 10 tahun naik ke 3,99%. Pasar uang sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu malam waktu setempat. Langkah tersebut akan menjadi bagian dari siklus pelonggaran moneter lanjutan yang diharapkan mendukung aktivitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Presiden AS Donald Trump turut memberikan sentimen tambahan bagi pasar setelah menyatakan niat untuk menurunkan tarif atas barang-barang impor Tiongkok yang diberlakukan terkait krisis fentanyl. Trump juga mengonfirmasi rencana untuk berbicara langsung dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping mengenai chip kecerdasan buatan (AI) unggulan milik Nvidia, seri Blackwell, yang menjadi sorotan utama sektor teknologi global.

Poundsterling dan franc Swiss menjadi dua mata uang dengan kinerja terburuk hari ini. GBP/USD merosot hingga 0,6% ke level 1,3198—terendah sejak 1 Agustus—sementara EUR/GBP menembus di atas level psikologis 0,88 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Tekanan terhadap pound dipicu oleh kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Inggris dan kemungkinan Bank of England tetap berhati-hati terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Sebaliknya, dolar Australia mencatat kinerja positif, naik hingga 0,5% ke 0,6618 dan memperpanjang reli menjadi lima hari berturut-turut. Penguatan ini terjadi setelah pasar menurunkan ekspektasi terhadap peluang pemangkasan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia (RBA) pada pertemuan November mendatang. Data inflasi terbaru menunjukkan peningkatan pada tingkat inflasi inti tahunan—kenaikan pertama sejak Desember 2022—menurut Michelle Marquardt dari Biro Statistik Australia.

Di sisi lain, pasangan USD/JPY sempat melemah hingga 0,4% ke level 151,54 setelah komentar hawkish dari Bessent mengenai kebijakan Bank of Japan, sebelum pulih ke 152,54 (+0,3%) menyusul pernyataan Trump tentang keyakinannya terhadap kesepakatan perdagangan baru dengan Tiongkok. Bessent menegaskan bahwa “kesediaan pemerintah Jepang untuk memberi ruang kebijakan bagi Bank of Japan akan menjadi kunci dalam menambatkan ekspektasi inflasi dan mencegah volatilitas berlebihan pada nilai tukar.”

Sementara itu, EUR/USD turun 0,3% ke 1,1619 sebelum memangkas sebagian pelemahannya. Secara keseluruhan, dinamika pasar hari ini menunjukkan bahwa Dolar AS masih memegang kendali menjelang keputusan penting The Fed, dengan investor global bersiap menghadapi potensi perubahan arah kebijakan moneter yang dapat menentukan arah utama pasar valuta asing dalam beberapa bulan mendatang.

Source: Bloomberg.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini