Emas Tembus Rekor di Atas $4.100, Didukung Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Dagang AS–China

Harga emas melonjak ke rekor tertinggi baru di atas level $4.100 per ons pada Sel
asa, didorong oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bulan ini serta lonjakan permintaan aset safe haven akibat memanasnya kembali ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.

Harga emas spot naik 0,5% menjadi $4.128,49 per ons pada pukul 08.05 GMT, setelah sempat mencapai rekor intraday di $4.179,48 sebelumnya. Sejak awal tahun, emas telah menguat lebih dari 57%, menembus level kunci $4.100 untuk pertama kalinya pada Senin. Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor seperti ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga, pembelian masif oleh bank sentral, serta arus masuk kuat ke reksa dana berbasis emas (ETF).

“Naiknya kembali kekhawatiran atas potensi perang dagang global telah mendorong emas melampaui level psikologis $4.100,” ujar Han Tan, Kepala Analis Pasar di Nemo.money. “Kenaikan berikutnya menuju area pertengahan $4.000 kemungkinan akan membutuhkan kejutan dovish dari hasil pertemuan FOMC bulan ini,” tambahnya.

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan tetap bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada akhir Oktober, menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pertemuan tersebut menjadi sorotan pasar karena diharapkan dapat mengarah pada deeskalasi ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Namun, di saat negosiasi dagang semakin intensif, kedua negara justru akan mulai memberlakukan biaya pelabuhan bagi perusahaan pelayaran internasional yang mengangkut berbagai komoditas mulai dari mainan hingga minyak mentah — sebuah kebijakan yang berpotensi memperburuk friksi perdagangan.

Sementara itu, analis dari Bank of America dan Societe Generale memperkirakan harga emas dapat menembus level $5.000 per ons pada tahun 2026, seiring berlanjutnya tren pembelian emas oleh bank sentral dan meningkatnya permintaan dari investor institusional.

Di sisi lain, harga perak spot turun tipis 0,1% menjadi $52,27 per ons setelah sempat menyentuh rekor $53,60. Penurunan tipis ini terjadi setelah reli tajam akibat faktor serupa yang mendorong emas, termasuk kondisi pasar fisik yang ketat. “Tekanan short squeeze di London menjadi katalis utama bagi rekor baru harga perak, sementara sentimen bullish juga diperkuat oleh meningkatnya permintaan aset safe haven,” ujar Han Tan.

Para investor kini menanti pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam pertemuan tahunan NABE pada Selasa malam untuk mencari petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter bank sentral AS. Kepala Federal Reserve Philadelphia, Anna Paulson, sebelumnya menyatakan bahwa meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja memperkuat alasan bagi The Fed untuk kembali memangkas suku bunga.

Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung tampil kuat karena biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih kecil. Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan: platinum naik 0,6% menjadi $1.654,65 per ons, sementara palladium menguat 0,2% ke $1.477,95 per ons.

Kenaikan harga emas yang spektakuler ini menandai babak baru dalam pasar komoditas global, mencerminkan kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan moneter longgar, dan arus modal besar yang mengalir ke aset-aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Source : Reuters.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini