Harga Minyak Turun Seiring Dolar Menguat Pasca Pemangkasan Suku Bunga The Fed


Harga minyak dunia melemah setelah penguatan signifikan dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi berkurangnya jumlah pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun depan. Pergerakan ini menekan pasar komoditas, mengingat dolar yang lebih kuat membuat minyak menjadi lebih mahal bagi sebagian besar pembeli global.

Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk Februari merosot mendekati USD 69 per barel, sementara Brent menetap di atas USD 73 per barel. Penurunan ini terjadi tidak lama setelah keputusan The Fed yang memangkas suku bunga sesuai ekspektasi pada Rabu, namun sekaligus menurunkan proyeksi jumlah pemotongan hingga tahun 2025. Langkah ini langsung mengangkat dolar AS ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, memberikan tekanan tambahan bagi harga minyak.

Pada hari sebelumnya, harga minyak sempat menguat setelah data menunjukkan persediaan minyak nasional AS menurun untuk minggu keempat berturut-turut. Penurunan stok ini biasanya menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan pengetatan suplai. Namun, sentimen tersebut tidak mampu bertahan di tengah reli tajam dolar yang menguasai arah pergerakan komoditas.

Futures minyak juga menuju kisaran perdagangan tahunan paling sempit sejak 2019. Kondisi ini menandai berakhirnya era volatilitas ekstrem yang sebelumnya dipicu oleh pandemi global serta konflik besar di Ukraina dan Timur Tengah. Stabilitas kisaran harga yang lebih ketat menunjukkan bahwa pasar memasuki fase yang lebih tenang, meskipun tetap rentan terhadap kejutan kebijakan moneter dan gejolak geopolitik.

Dengan lanskap ekonomi global yang terus bergerak dinamis dan kebijakan The Fed yang semakin berhati-hati, harga minyak berpotensi menghadapi tekanan tambahan dalam jangka pendek. Penguatan dolar tetap menjadi faktor penentu utama yang dapat menekan minat beli, sekaligus memengaruhi konsistensi permintaan di pasar internasional.

Source: Bloomberg

Komentar

Postingan populer dari blog ini