Harga Minyak Turun Lagi, Harapan Perdamaian Ukraina Picu Kekhawatiran Pasokan Berlebih
Harga minyak global kembali melemah pada perdagangan Selasa, melanjutkan tren penurunan dari sesi sebelumnya seiring meningkatnya spekulasi pasar mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Optimisme geopolitik ini mendorong asumsi bahwa sanksi terhadap Rusia berpotensi dilonggarkan, yang pada akhirnya dapat membuka kembali aliran pasokan minyak ke pasar global dan menekan harga di tengah kondisi pasokan yang sudah longgar.
Dalam pergerakan terbaru, minyak Brent turun 0,6% ke level USD 60,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,5% ke USD 56,52 per barel. Meski penurunannya relatif terbatas, tekanan harga tetap terasa karena sentimen pasar condong pada skenario “pelonggaran pasokan”. Pelaku pasar menilai bahwa risiko kelebihan pasokan kini lebih dominan dibandingkan potensi gangguan suplai jangka pendek.
Analis ANZ menilai pelemahan harga mencerminkan meningkatnya optimisme terhadap prospek perdamaian Rusia-Ukraina. Kekhawatiran utama pasar adalah kemungkinan dicabutnya sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak Rusia jika situasi geopolitik membaik. Langkah tersebut berpotensi menambah pasokan signifikan ke pasar global yang saat ini sudah dipenuhi produksi dari berbagai negara, sehingga mempersempit ruang kenaikan harga minyak.
Dari sisi politik, Amerika Serikat dikabarkan menawarkan jaminan keamanan bergaya NATO kepada Kyiv, sementara para negosiator Eropa melaporkan adanya kemajuan dalam pembicaraan pada awal pekan. Namun demikian, sejumlah isu krusial masih menggantung, terutama terkait konsesi wilayah, sehingga kesepakatan final belum dapat dipastikan. Ketidakpastian ini membuat pasar tetap berhati-hati, meski arah sentimen jangka pendek cenderung negatif bagi harga minyak.
Tekanan tambahan datang dari melemahnya data ekonomi China. Pertumbuhan output pabrik melambat ke level terendah dalam 15 bulan, sementara penjualan ritel tumbuh pada laju paling lambat sejak akhir 2022. Data ini memicu kekhawatiran bahwa permintaan global, khususnya dari China sebagai pembeli minyak terbesar dunia, tidak cukup kuat untuk menyerap potensi lonjakan pasokan yang akan datang.
Faktor lain yang menahan harga minyak adalah kondisi persediaan yang melimpah. Pedagang menyoroti tingginya volume minyak di penyimpanan terapung serta lonjakan pembelian China dari Venezuela sebagai antisipasi sanksi, yang pada praktiknya mengurangi dampak penyitaan kapal tanker Venezuela oleh AS pekan lalu. Secara keseluruhan, fokus pasar saat ini mengerucut pada dua tekanan utama: potensi peningkatan pasokan dan melemahnya permintaan China, yang bersama-sama membatasi peluang pemulihan harga minyak dalam waktu dekat.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar