Netanyahu Dijadwalkan Bertemu Trump Bahas Iran, Ketegangan Kawasan Kembali Meningkat


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington pada Rabu mendatang untuk membahas pembicaraan Amerika Serikat dengan Iran. Pengumuman tersebut disampaikan kantor Netanyahu pada Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Menteri Luar Negeri Iran melontarkan ancaman terhadap pangkalan militer AS di kawasan, hanya sehari setelah putaran terbaru diskusi nuklir berlangsung.

Dalam pernyataan singkatnya, kantor Netanyahu menegaskan bahwa Israel memandang setiap negosiasi dengan Iran harus mencakup pembatasan program rudal balistik serta penghentian dukungan Teheran terhadap jaringan kelompok militan di kawasan. Israel secara konsisten menyoroti peran Iran dalam mendukung Hezbollah di Lebanon dan Hamas di wilayah Palestina, yang dianggap sebagai sumber utama instabilitas regional. Pertemuan Trump dan Netanyahu ini menjadi yang pertama sejak keduanya terakhir kali bertemu pada Desember lalu.

Pembicaraan AS-Iran sendiri berlangsung secara tidak langsung pada Jumat di Oman dan dinilai belum menghasilkan terobosan berarti. Diskusi tersebut justru dinilai kembali ke titik awal mengenai pendekatan terhadap program nuklir Iran. Meski demikian, Trump menyebut pembicaraan tersebut berjalan “sangat baik” dan mengindikasikan putaran lanjutan akan digelar pada awal pekan depan. Delegasi AS dipimpin oleh utusan khusus Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat dekat Trump.

Tekanan militer tetap menjadi bagian dari strategi Washington. Trump berulang kali mengancam penggunaan kekuatan untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan nuklir, terutama setelah pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perang lain ke kawasan. Langkah ini dilakukan di tengah situasi domestik Iran yang memanas akibat penindakan keras terhadap gelombang protes nasional, yang dilaporkan menelan ribuan korban jiwa.

Negara-negara Teluk Arab menyuarakan kekhawatiran bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu perang regional berskala luas. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh ingatan yang masih segar atas perang Israel-Iran selama 12 hari pada Juni lalu, yang mengguncang stabilitas Timur Tengah dan berdampak besar terhadap keamanan serta pasar energi global.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah negosiasi dengan Iran, Amerika Serikat melibatkan langsung panglima militernya di Timur Tengah. Laksamana Angkatan Laut AS Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, turut terlibat dalam proses tersebut dan kemudian mengunjungi USS Abraham Lincoln bersama Witkoff dan Kushner. Langkah ini menegaskan dimensi militer yang semakin kental dalam diplomasi nuklir Iran-AS.

Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembicaraan nuklir hanya dapat berlangsung dalam suasana tenang tanpa ancaman dan tekanan. Ia menyatakan putaran pembicaraan saat ini telah berakhir, dengan para diplomat kembali ke ibu kota masing-masing. Namun, sehari kemudian Araghchi menyampaikan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan, mengingat keterbatasan Iran untuk menyerang wilayah Amerika secara langsung.

Araghchi juga menegaskan adanya ketidakpercayaan yang sangat dalam terhadap Amerika Serikat, terutama setelah pengalaman pada pembicaraan sebelumnya ketika AS membombardir fasilitas nuklir Iran dalam perang Israel-Iran tahun lalu. Ia menegaskan bahwa isu rudal balistik dan pertahanan sama sekali tidak dapat dinegosiasikan, baik sekarang maupun di masa depan, dan menekankan bahwa dari sudut pandang Teheran, pembicaraan hanya terbatas pada program nuklir.

Meski demikian, laporan menyebutkan adanya upaya diplomatik regional. Diplomat dari Mesir, Turki, dan Qatar dikabarkan menawarkan proposal kepada Iran yang mencakup penghentian pengayaan uranium selama tiga tahun, pengiriman uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke luar negeri, serta komitmen untuk tidak memulai penggunaan rudal balistik. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup seluruh isu tersebut, termasuk rudal dan aktivitas regional Iran.

Israel, sebagai sekutu utama AS, tetap meyakini bahwa Iran tengah mengejar senjata nuklir dan menuntut agar seluruh program nuklir Teheran dihentikan. Selain itu, Israel juga mendesak penghentian program rudal balistik Iran serta dukungan terhadap kelompok militan. Di sisi lain, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.

Dalam forum di Qatar, Araghchi justru menuding Israel sebagai pihak yang paling mendestabilisasi kawasan. Ia menuduh Israel melanggar kedaulatan negara lain, melakukan pembunuhan terhadap pejabat resmi, serta menjalankan operasi yang disebutnya sebagai terorisme lintas wilayah. Ia juga mengecam perlakuan Israel terhadap rakyat Palestina dan menyerukan sanksi komprehensif terhadap Israel, termasuk embargo senjata segera. Situasi ini menegaskan bahwa pertemuan Netanyahu dan Trump berpotensi menjadi momen krusial dalam menentukan arah ketegangan geopolitik Timur Tengah ke depan.

CNBC.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini