Dolar AS Menguat Tajam, Ketegangan Hormuz dan Risiko Global Picu Aksi Safe Haven
Penguatan dolar Amerika Serikat semakin tak terbendung menjelang akhir pekan, didorong oleh lonjakan permintaan aset safe haven di tengah meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik 0,3% ke level 100,17 dan telah menguat sekitar 2,57% sepanjang Maret—menjadikannya performa bulanan terbaik sejak pertengahan 2025. Kenaikan ini mencerminkan perubahan besar dalam sentimen pasar, di mana investor mulai mengalihkan dana ke dolar sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian global.
Ketegangan yang melibatkan Iran dan sekutunya menjadi katalis utama penguatan dolar. Harapan de-eskalasi yang sebelumnya sempat muncul kini mulai memudar, terutama setelah muncul sinyal bahwa konflik justru berpotensi meluas. Risiko gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama, mengingat jalur ini merupakan salah satu titik vital distribusi energi dunia. Ketidakpastian di kawasan ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter juga memainkan peran penting. Pasar kini semakin yakin bahwa Amerika Serikat berpotensi menaikkan suku bunga dalam tahun ini. Kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut meningkatkan daya tarik dolar dibandingkan mata uang lainnya, terutama dalam konteks inflasi yang didorong oleh lonjakan harga energi global.
Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang yang paling tertekan dalam dinamika ini. Pasangan USD/JPY melonjak menembus level psikologis 160 untuk pertama kalinya sejak 2024, memicu kembali spekulasi intervensi oleh otoritas Jepang. Pelemahan yen tidak hanya dipicu oleh kekuatan dolar, tetapi juga oleh kenaikan imbal hasil obligasi Jepang serta ketergantungan tinggi negara tersebut terhadap impor energi. Kombinasi faktor ini membuat yen kehilangan daya saing secara signifikan sepanjang bulan.
Mata uang utama lainnya di kelompok G10 menunjukkan pergerakan yang beragam. Euro mencatat kenaikan tipis, sementara pound sterling terus melemah untuk sesi keempat berturut-turut. Dolar Australia juga mengalami tekanan dan sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Penurunan ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang pro-siklus yang sangat sensitif terhadap volatilitas ekonomi global dan fluktuasi harga energi.
Pelaku pasar kini memasuki fase wait and see menjelang akhir pekan, dengan sinyal diplomatik yang saling bertentangan. Iran dikabarkan tengah merespons proposal perdamaian dari Amerika Serikat, sementara IRGC justru menegaskan larangan pelayaran melalui Selat Hormuz bagi kapal yang terkait dengan sekutu AS dan Israel. Di saat yang sama, laporan menyebutkan bahwa Pentagon mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan darat ke kawasan tersebut—sebuah langkah yang memperbesar risiko eskalasi.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury kembali meningkat setelah lonjakan sebelumnya. Yield obligasi tenor 2 tahun mencapai 3,914%, sementara tenor 10 tahun naik menjadi 4,438%. Kenaikan ini mengonfirmasi mekanisme utama yang sedang berlangsung: risiko geopolitik dan lonjakan harga energi meningkatkan premi inflasi, yang kemudian mendorong penyesuaian ekspektasi suku bunga dan memperkuat posisi dolar AS secara keseluruhan.
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, volatilitas energi, dan perubahan ekspektasi moneter, dolar AS saat ini berada dalam posisi dominan. Selama ketidakpastian global belum mereda, tren penguatan dolar berpotensi berlanjut, menjadikannya aset utama dalam strategi defensif investor global.
Source: Newsmaker.id
Komentar
Posting Komentar